Nama Penulis : Indriyani
Sekolah : MAN 1 KOTA TANGERANG SELATAN
Aku Indriyani anak
ke empat dari empat bersaudara, anak dari pasangan Madrais dan Rohaeni. Ibuku
pernah bercerita tentang nenekku yang pernah mengalami kegetiran pada masa
penjajahan dahulu, tepatnya di tempat kediamanya sendiri yaitu di Kp. Lulut.
Lulut adalah
sebuah desa tepatnya di Kp. Lulut, Desa Citeureup, Kecamatan Kelapa Nunggal,
Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa barat. Desa ini menyuguhkan pemandangan yang
masih asri dan bersih, di sana masih banyak sawah dan kebun yang hijau walaupun
sekarang sudah banyak pembangunan industri di mana-mana, tapi kesejukan desa
Lulut masih bisa terasa sampai saat ini.
Ani adalah nenekku,
sekarang beliau seorang petani yang mengurus sawah warisan setelah kakek
meninggal tahun 2008. Beliau hidup bersama anak ke enam yang bernama Siman, juga menantu dan dua cucunya. Meski
umur Ani sudah tua, tetapi beliau masih mempunyai ingatan yang kuat. Karena
penasaran dengan apa yang dialami Ani dulu, aku menyuruh saudaraku (Sinta)
merekam cerita Ani. Dengan penuturan yang santai lewat Audio Whatsapp, beliau bercerita pernah menjadi saksi nyata
dalam penyerangan NICA di desa Lulut ini.
NICA (Netherlands
Indies Civil Administration) adalah organisasi yang didirikan orang-orang
Belanda yang melarikan diri ke Australia setelah Belanda menyerah kepada Jepang, NICA didirikan dibawah pimpinan Van
der Plass dan Van Mook pada 3April 1944. Adanya keinginan Belanda untuk
berkuasa di Indonesia ini mengakibatkan pertentangan, bahkan dimana-mana
pertempuran melawan NICA dan sekutu.
Setelah mengulik
dan mendengarkan cerita dari Ani melalui Audio Whatsapp tentang NICA, Ani
menuturkan dengan santai dan lancar, meski ada sedikit yang tidak sesuai karena
daya ingatnya di usia renta. Tapi ada satu hal yaitu ketika Ani menceritakan
usianya sekarang, itu menjadi ganjalan di benakku dan Sejarawan UIN (Firman).
Ani menuturkan usianya sekarang sekitar 100 tahun, maka tahun lahirnya sekitar tahun
1917, lanjut beliau menuturkan yang ketika itu menikah di usia 12 tahun berati
sekitar tahun 1929, sedangkan beliau menceritakan tentang mengungsi saat di
perangi oleh NICA. Setelah aku mencari referensi dari data sekunder, NICA didirikan
pada tahun 1944. Dalam pikiranku masih terbesit rasa penasaran, akhirnya untuk
menelusuri kebenaran, Aku dan Ibuku pergi ke kampung Lulut dengan tujuan bersilaturahmi
sambil mewawancarai keluarga besar Ani untuk mencari tahu kebenaranya.
Pada 5 Oktober
2017 sekitar pukul 16.00 WIB, aku putuskan pergi bersama ibuku dengan
mengggunakan transportasi umum menuju kampung halaman. Sesampainya di sana
dengan desiran angin malam ditambah sepinya jalan menuju Lulut, akhirnya pukul
20.00 WIB, aku dan ibuku tiba di kediaman Ani. Kami di sambut hangat oleh
keluarga besar di sana.
Sembari menyeruput kopi hitam dan biskuit sebagai camilan, malam itu Ani dan beberapa Anaknya berkumpul
di depan teras rumah, ditemani dengan anak pertama Misnan, anak kedua Santi,
dan anak ke enam Siman. Mereka berbincang-bincang tentang masa lalu yang masih
ada dalam benaknya semasa kecil, saat kejahatan NICA merajalela.
Mengingat perkiraan
tahun menikah Ani pada tahun 1929, maka aku hubungkan dengan menanyakan
peristiwa sumpah pemuda pada tahun 1928, dengan nada santai menggunakan Bahasa
Sunda.
“Ema pernah ngadenge
sumpah pemuda teu?[1] ?"
“Can pernah[2],”
tuturnya sambil menampakan raut wajah bingungnya.
Semakin penasaran aku tanyakan lagi perihal kemerdekaan,
“Terus pas
merdeka, ema terang teu, kariyaan anu heboh teu?,[3]”
“Terang ari eta
mah. Pokokna pas merdeka ema boga si Barnah,[4]”
Ani menungkapkan Ketika merdeka ketika beliau mempunyai anak ke-3. Jarak antara
misnan dan dua anak itu sekitar 2-4 tahun. Misnan lahir pada tahun 1940, Santi 1945 dan Barnah
1948. Kemudian aku perhitungkan lagi dengan tahun kelahiran Misnan tahun 1940.
Ketika itu Misnan diajak mengungsi oleh Ani umur 4 tahun, berati sekitar tahun
1944.
Sejak kedatangan
tentara NICA pada tahun 1944, Belanda ingin menguasai Indonesia kembali, salah
satunya adalah Lulut. Ani yang saat itu baru mempunyai anak pertamanya bernama
Misnan yang berumur 4 tahun, terpaksa mengikuti suruhan sang ibunda untuk
meninggalkan kampung Lulut dan mengungsi bersama tetangga-tetangga, karena dikhawatir
kan desa itu akan diperangi . Dalam perjalanan itu Ani tidak bersama sang suami
(Kakek) penuturan beliau sangat menggambarkan sebuah kesetiaan sekaligus
kesedihan,
Ani menceritakan, kekhawatiran ketika ia hendak meninggalkan
suaminya ke pengungsian, salah satu percakapanya yaitu,
“Kumaha atuh uing
teh embung ninggalken maneh,[5]”
“Teu nanaon,
abdi mah didie wae, maneh mah ngungsi we. Abdi mah rek ilu ngajuangken iye lembur[6]”
Pada 30 Desember
tahun 1944, sambil menggendong Misnan di tambah sedang hamil tua, Ani dan para
tetangga berangkat berjalan kaki untuk mencari pengungsian yang cocok. Lewat
penuturan Ani ketika dalam perjalanan itu melewati hutan-hutan yang rimbun,
karena tidak menggunakan sandal, kaki Ani pun terluka setelah menginjak
batu-batu cadas[7],
jangankan sandal, pakaian saja dari karung Goni yang dijahit secara asal. Jika
waktu malam telah tiba, maka Ani dan para tetangga selalu berhenti dan menginap
di sebuah gubuk di daerah yang dilewati kala itu, begitu seterusnya sampai 5
hari perjalanan menemukan tempat yang cocok. Yang lebih mirisnya saat itu
ketika kondisi Misnan sangat menyedihkan,
mungkin antara hidup dan mati karena 5 hari tidak menemukan makanan. Sampai
pada akhirnya Ani dan para tetangganya menemukan tempat yang tepat untuk
mengungsi yaitu di sekitar Rawa Karawang.
Kondisi di sekitar
rawa karawang itu cukup memadai unuk
dijadikan tempat pengungsian, meskipun disana masih banyak hutan-hutan yang
rindang. Di sana Ani menemukan banyak orang yang sama, mungkin dari daerah yang
lain sedang mengungsi juga. Karena kehabisan makanan akibat dicuri oleh belanda
sebelum mengungsi, di pengugsian mereka juga berinisiatif untuk menanam jagung
dan singkong demi kebutuhannya sendiri. Meski jauh dari sang suami, Ani pernah
mendengar telepati tentang suami di Lulut, bahwa sang suami dijadikan budak
untuk menanam kebun dan hasilnya direbut oleh belanda kembali. Meski begitu,
sang suami selalu menjenguk ke
pengungsian seminggu sekali kira-kira. Pada tahun 1945 Ani masih berada di
pengungsian, kira-kira pertengahan Januari, Ani melahirkan anak ke-2 berjenis
kelamin wanita yang diberi nama Santi.
Setelah 6 bulan
Santi lahir, pada 17 Agustus 1945, tanggal keramat itu menjadi awal kemerdekaan
bangsa Indonesia yang sangat diidam-idamkan. Gembar-gembor kemerdekaan telah
menghuru hara penduduk pengungsian yang heboh karena mendengar dari mulut ke
mulut.
Meski telah merdeka, penderitaan rakyat belum usai sampai disitu,
masih banyak pertempuran-pertempuran yang terjadi, misalnya pertempuran yang
terjadi di Cilebut, Cikampek, Cibinong, Kalijati dan Purwakarta. Dalam kejadian
itu Ani tidak mengalaminya secara langsung karena masih berada dalam
pengungsian, hanya saja sekedar mendengar dentuman bom tanpa henti selama dua
jam.
Kala itu, nenekku
menjadi contoh potret rakyat Indonesia yang seharusnya sudah merdeka namun
harus berjalan berpuluh-puluh kilo meter untuk menghindari dan melindungi
anak-anaknya dari penjajah yang ingin merebut bumi pertiwi ini.
Daftar Pustaka
11. Nasution,
A.H. 1977. Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid 6. Bandung:Angkasa
22. Ibnu,
Dimas. “Apa yang dimaksud dengan NICA, sebutkan kepanjangan dari NICA?”. 26
Juli 2016. http://pendidikanzone.blogspot.co.id/2016/07/apa-yang-dimaksud-dengan-nica-sebutkan-kepanjangan-nica.html
[1] Nenek pernah
dengar peristiwa sumpah pemuda gak?
[2] Belum pernah
[3] Lalu ketika
merdeka, nenek mendengar perayaan yang heboh gak?
[4] Kalau itu tau,
kebetulan ketika mempunyai si Barnah (anak ke-3)
[5] Aku gak mau
ninggalin kamu
[6] Gak apa-apa
kok, kamu pergi saja mengungsi. Kalau aku disini mau memperjuangkan kampung ini
[7] Batu yang
keras dan tajam menengah
