SAYA DAN SEJARAH KELUARGA (HIJRAHNYA ANI KE UTARA)


Nama Penulis : Indriyani
Sekolah : MAN 1 KOTA TANGERANG SELATAN    

Agresi Militer I pada tahun 1947
Sumber Foto by Arsip Nasional


            Aku Indriyani anak ke empat dari empat bersaudara, anak dari pasangan Madrais dan Rohaeni. Ibuku pernah bercerita tentang nenekku yang pernah mengalami kegetiran pada masa penjajahan dahulu, tepatnya di tempat kediamanya sendiri yaitu di Kp. Lulut.
            Lulut adalah sebuah desa tepatnya di Kp. Lulut, Desa Citeureup, Kecamatan Kelapa Nunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa barat. Desa ini menyuguhkan pemandangan yang masih asri dan bersih, di sana masih banyak sawah dan kebun yang hijau walaupun sekarang sudah banyak pembangunan industri di mana-mana, tapi kesejukan desa Lulut masih bisa terasa sampai saat ini.
            Ani adalah nenekku, sekarang beliau seorang petani yang mengurus sawah warisan setelah kakek meninggal tahun 2008. Beliau hidup bersama anak ke enam yang bernama  Siman, juga menantu dan dua cucunya. Meski umur Ani sudah tua, tetapi beliau masih mempunyai ingatan yang kuat. Karena penasaran dengan apa yang dialami Ani dulu, aku menyuruh saudaraku (Sinta) merekam cerita Ani. Dengan penuturan yang santai lewat Audio Whatsapp,  beliau bercerita pernah menjadi saksi nyata dalam penyerangan NICA di desa Lulut ini.
            NICA (Netherlands Indies Civil Administration) adalah organisasi yang didirikan orang-orang Belanda yang melarikan diri ke Australia setelah Belanda menyerah kepada  Jepang, NICA didirikan dibawah pimpinan Van der Plass dan Van Mook pada 3April 1944. Adanya keinginan Belanda untuk berkuasa di Indonesia ini mengakibatkan pertentangan, bahkan dimana-mana pertempuran melawan NICA dan sekutu.
            Setelah mengulik dan mendengarkan cerita dari Ani melalui Audio Whatsapp tentang NICA, Ani menuturkan dengan santai dan lancar, meski ada sedikit yang tidak sesuai karena daya ingatnya di usia renta. Tapi ada satu hal yaitu ketika Ani menceritakan usianya sekarang, itu menjadi ganjalan di benakku dan Sejarawan UIN (Firman). Ani menuturkan usianya sekarang sekitar 100 tahun, maka tahun lahirnya sekitar tahun 1917, lanjut beliau menuturkan yang ketika itu menikah di usia 12 tahun berati sekitar tahun 1929, sedangkan beliau menceritakan tentang mengungsi saat di perangi oleh NICA. Setelah aku mencari referensi dari data sekunder, NICA didirikan pada tahun 1944. Dalam pikiranku masih terbesit rasa penasaran, akhirnya untuk menelusuri kebenaran, Aku dan Ibuku pergi ke kampung Lulut dengan tujuan bersilaturahmi sambil mewawancarai keluarga besar Ani untuk mencari tahu kebenaranya.
            Pada 5 Oktober 2017 sekitar pukul 16.00 WIB, aku putuskan pergi bersama ibuku dengan mengggunakan transportasi umum menuju kampung halaman. Sesampainya di sana dengan desiran angin malam ditambah sepinya jalan menuju Lulut, akhirnya pukul 20.00 WIB, aku dan ibuku tiba di kediaman Ani. Kami di sambut hangat oleh keluarga besar di sana.
Sembari menyeruput kopi hitam dan biskuit sebagai camilan,  malam itu Ani dan beberapa Anaknya berkumpul di depan teras rumah, ditemani dengan anak pertama Misnan, anak kedua Santi, dan anak ke enam Siman. Mereka berbincang-bincang tentang masa lalu yang masih ada dalam benaknya semasa kecil, saat kejahatan NICA merajalela.
            Mengingat perkiraan tahun menikah Ani pada tahun 1929, maka aku hubungkan dengan menanyakan peristiwa sumpah pemuda pada tahun 1928, dengan nada santai menggunakan Bahasa Sunda.
            “Ema pernah ngadenge sumpah pemuda teu?[1] ?"
            “Can pernah[2],” tuturnya sambil menampakan raut wajah bingungnya.
Semakin penasaran aku tanyakan lagi perihal kemerdekaan,
            “Terus pas merdeka, ema terang teu, kariyaan anu heboh teu?,[3]
            “Terang ari eta mah. Pokokna pas merdeka ema boga si Barnah,[4]” Ani menungkapkan Ketika merdeka ketika beliau mempunyai anak ke-3. Jarak antara misnan dan dua anak itu sekitar 2-4 tahun. Misnan  lahir pada tahun 1940, Santi 1945 dan Barnah 1948. Kemudian aku perhitungkan lagi dengan tahun kelahiran Misnan tahun 1940. Ketika itu Misnan diajak mengungsi oleh Ani umur 4 tahun, berati sekitar tahun 1944.
            Sejak kedatangan tentara NICA pada tahun 1944, Belanda ingin menguasai Indonesia kembali, salah satunya adalah Lulut. Ani yang saat itu baru mempunyai anak pertamanya bernama Misnan yang berumur 4 tahun, terpaksa mengikuti suruhan sang ibunda untuk meninggalkan kampung Lulut dan mengungsi bersama tetangga-tetangga, karena dikhawatir kan desa itu akan diperangi . Dalam perjalanan itu Ani tidak bersama sang suami (Kakek) penuturan beliau sangat menggambarkan sebuah kesetiaan sekaligus kesedihan,
Ani menceritakan, kekhawatiran ketika ia hendak meninggalkan suaminya ke pengungsian, salah satu percakapanya yaitu,
            “Kumaha atuh uing teh embung ninggalken maneh,[5]
            “Teu nanaon, abdi mah didie wae, maneh mah ngungsi we. Abdi mah rek ilu ngajuangken iye lembur[6]
            Pada 30 Desember tahun 1944, sambil menggendong Misnan di tambah sedang hamil tua, Ani dan para tetangga berangkat berjalan kaki untuk mencari pengungsian yang cocok. Lewat penuturan Ani ketika dalam perjalanan itu melewati hutan-hutan yang rimbun, karena tidak menggunakan sandal, kaki Ani pun terluka setelah menginjak batu-batu cadas[7], jangankan sandal, pakaian saja dari karung Goni yang dijahit secara asal. Jika waktu malam telah tiba, maka Ani dan para tetangga selalu berhenti dan menginap di sebuah gubuk di daerah yang dilewati kala itu, begitu seterusnya sampai 5 hari perjalanan menemukan tempat yang cocok. Yang lebih mirisnya saat itu ketika  kondisi Misnan sangat menyedihkan, mungkin antara hidup dan mati karena 5 hari tidak menemukan makanan. Sampai pada akhirnya Ani dan para tetangganya menemukan tempat yang tepat untuk mengungsi yaitu di sekitar Rawa Karawang.
            Kondisi di sekitar rawa karawang itu cukup memadai  unuk dijadikan tempat pengungsian, meskipun disana masih banyak hutan-hutan yang rindang. Di sana Ani menemukan banyak orang yang sama, mungkin dari daerah yang lain sedang mengungsi juga. Karena kehabisan makanan akibat dicuri oleh belanda sebelum mengungsi, di pengugsian mereka juga berinisiatif untuk menanam jagung dan singkong demi kebutuhannya sendiri. Meski jauh dari sang suami, Ani pernah mendengar telepati tentang suami di Lulut, bahwa sang suami dijadikan budak untuk menanam kebun dan hasilnya direbut oleh belanda kembali. Meski begitu, sang suami selalu menjenguk  ke pengungsian seminggu sekali kira-kira. Pada tahun 1945 Ani masih berada di pengungsian, kira-kira pertengahan Januari, Ani melahirkan anak ke-2 berjenis kelamin wanita yang diberi nama Santi.
            Setelah 6 bulan Santi lahir, pada 17 Agustus 1945, tanggal keramat itu menjadi awal kemerdekaan bangsa Indonesia yang sangat diidam-idamkan. Gembar-gembor kemerdekaan telah menghuru hara penduduk pengungsian yang heboh karena mendengar dari mulut ke mulut.
Meski telah merdeka, penderitaan rakyat belum usai sampai disitu, masih banyak pertempuran-pertempuran yang terjadi, misalnya pertempuran yang terjadi di Cilebut, Cikampek, Cibinong, Kalijati dan Purwakarta. Dalam kejadian itu Ani tidak mengalaminya secara langsung karena masih berada dalam pengungsian, hanya saja sekedar mendengar dentuman bom tanpa henti selama dua jam.
            Kala itu, nenekku menjadi contoh potret rakyat Indonesia yang seharusnya sudah merdeka namun harus berjalan berpuluh-puluh kilo meter untuk menghindari dan melindungi anak-anaknya dari penjajah yang ingin merebut bumi pertiwi ini.



Daftar Pustaka
11.  Nasution, A.H. 1977. Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid 6. Bandung:Angkasa
22. Ibnu, Dimas. “Apa yang dimaksud dengan NICA, sebutkan kepanjangan dari NICA?”. 26 Juli 2016. http://pendidikanzone.blogspot.co.id/2016/07/apa-yang-dimaksud-dengan-nica-sebutkan-kepanjangan-nica.html


  



[1] Nenek pernah dengar peristiwa sumpah pemuda gak?
[2] Belum pernah
[3] Lalu ketika merdeka, nenek mendengar perayaan yang heboh gak?
[4] Kalau itu tau, kebetulan ketika mempunyai si Barnah (anak ke-3)
[5] Aku gak mau ninggalin kamu
[6] Gak apa-apa kok, kamu pergi saja mengungsi. Kalau aku disini mau memperjuangkan kampung ini
[7] Batu yang keras dan tajam menengah

My Family History

SAYA DAN SEJARAH KELUARGA (HIJRAHNYA ANI KE UTARA)

Nama Penulis : Indriyani Sekolah : MAN 1 KOTA TANGERANG SELATAN     Agresi Militer I pada tahun 1947 Sumber Foto by Arsip Nasional...